, ,

Seniman Tabanan Ubah Ribuan Tutup Botol Plastik Jadi Karya Seni Bernilai

by -1235 Views

Dari Sampah Menjadi Mahakarya: Kisah I Gede Oka Astawa dan Ribuan Tutup Botol yang Menyuarakan Ironi Kehidupan

NEWS SINGASANA– Setiap senja, di Pantai Pangkung Tibah, Tabanan, seorang lelaki berjalan menyusuri bibir pantai. Namun, langkahnya bukan hanya untuk menikmati keindahan matahari terbenam atau mendengar deburan ombak. Matanya tajam, menyisir setiap sudut, mencari sesuatu yang sering diabaikan pengunjung lain: tutup-tutup botol plastik yang berserakan. I Gede Oka Astawa, seniman asal Kediri, Tabanan, sedang “berburu” bahan baku untuk karyanya. Dari ribuan tutup botol yang dianggap sampah tak berharga itu, lahir sebuah instalasi seni monumental yang menggugat kesadaran kita semua: “Botol Lupa Tutupnya: Ironi Kaum-kaum Terlupakan.”

Melihat Ironi di Balik Sampah yang Terlupakan

Gagasan ini bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari kegelisahan yang mendalam. Setiap kali Oka berjalan di pantai, ia resah. Pemandangan laut dan pasir putih yang indah ternoda oleh sampah plastik, terutama tutup botol yang bertebaran. “Mereka seperti metafora yang sempurna,” ujar Oka dalam sebuah percakapan pada Selasa, 19 Agustus. “Sesuatu yang kecil, sering dilupakan, dibuang begitu saja setelah fungsinya habis. Tapi coba bayangkan jika sebuah botol kehilangan tutupnya, isinya akan tumpah atau terkontaminasi. Itulah ironinya.”

Sejak pertengahan 2023, Oka dengan tekun mengumpulkan, membersihkan, dan menyusun ribuan tutup botol berwarna-warni itu. Prosesnya bukan sekadar merangkai, tetapi merenungkan setiap cerita yang melekat pada benda kecil tersebut. Setiap tutup botol mungkin pernah menjadi bagian dari momen kehausan yang terobati, pesta, atau sekadar minuman sehari-hari. Kini, mereka telah dilupakan.

Instalasi yang kini dipajang di area pertokoan depan Kantor Desa Pangkung Tibah ini bukan hanya menyajikan keindahan visual, tetapi juga narasi yang dalam. Susunan tutup botol yang rapi membentuk pola-pola yang memikat, namun pesannya menusuk: dalam kehidupan, kita sering melupakan hal-hal yang pernah vital, baik itu alam, hubungan manusia, bahkan jasa orang-orang kecil yang tak terlihat.

Seni Sebagai Suara bagi yang Tak Terdengar

Judul “Ironi Kaum-kaum Terlupakan” sengaja dipilih Oka untuk menyoroti paradoks dalam masyarakat. Tutup botol adalah simbol dari kaum-kaum yang bekerja di belakang layar, yang memungkinkan kehidupan kita berjalan lancar, namun sering tidak dihargai.

Kreatif, Tutup Botol Plastik Disulap Jadi Karya Seni Ekologi | BALIPOST.com

Baca Juga: Bali United Resmi Gaet Jordy Bruijn Rekan Calvin Verdonk dari Belanda

Karya ini adalah lanjutan dari komitmen Oka yang tidak pernah pudar untuk menyuarakan isu lingkungan melalui seni. Namanya sudah tidak asing di dunia seni lingkungan Bali. Pada 2022, ia menggagas S.O.S Beach Project (Save Our Sand), mengajak pemuda desa membersihkan pantai dan mengubah sampah yang dikumpulkan menjadi instalasi bertajuk “Traces Of Civilization Memories.” Karya itu dibuat dari kayu, botol, kaca, hingga sandal bekas, menjadi cermin pahit peradaban modern yang menghasilkan sampah.

Tak berhenti di situ, pada 2023, Oka kembali mencuri perhatian melalui “Art, Surf and Marine Ecology.” Ia memanfaatkan papan selancar yang rusak sebagai kanvas lukis, memamerkan nya di Pantai Pasut, Kerambitan. Aksi ini tidak hanya dinikmati masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara, menunjukkan bahwa seni bisa menjadi bahasa universal untuk menyampaikan pesan pelestarian lingkungan.

Proses Kreatif: Ketika Ketekunan Bertemu Visi

Menciptakan instalasi dari tutup botol bukan pekerjaan mudah. Butuh ketekunan, kesabaran, dan visi yang jelas. Oka menghabiskan bulanan hanya untuk mengumpulkan material. Setiap tutup botol dicuci, dikelompokkan berdasarkan warna dan ukuran, lalu disusun dengan presisi. “Ini adalah meditasi. Setiap tutup yang saya pasang adalah doa agar manusia lebih sadar,” ujarnya.

Proses kreatif Oka mengingatkan kita pada seniman lingkungan seperti Bordalo II dari Portugal yang menciptakan karya besar dari sampah, atau Veronika Richterová yang mendunia berkat instalasi botaninya dari botol plastik. Namun, Oka membawa konteks lokal yang kental. Ia tidak hanya berbicara tentang sampah global, tetapi juga tentang nilai-nilai kearifan Bali, seperti konsep Tri Hita Karana – menjaga harmoni dengan Tuhan, manusia, dan alam.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.